K4kjeb’s Blog

Just another WordPress.com weblog

MUHAMMAD SEBAGAI SUPER MANAJER PENDIDIKAN

Muhammad Saw Sebagai Super
Manajer Pendidikan

Berbicara tentang pendidikan, maka Rasulullah sebagai orang pertama yang patut diteladani. Manajemen pendidikan yang dicipta oleh Rasulullah sangat lengkap dan bersifat konstan (tetap. Bisa digunakan sampai sekarang dan nanti). Dalam dunia nyata Nabi Muhammad berada di peringkat pertama khususnya dalam hal pendidikan tetapi sebenarnya Rasulullah berada di peringkat ketiga.
Al Gazalī dalam Al Qistas Al Mustaqim, menyebutkan bahwa Allah sebagai pendidik pertama, Jibril sebagai pendidik kedua dan Rasulullah sebagai pendidik ketiga. Allah sebagai Yang Maha Pendidik menduduki rangking pertama, karena Dialah yang mendidik semua makhluk. Malaikat Jibril mendidik Rasulullah dan Rasulullah mendidik umatnya. Dengan demikian, manusia biasa menduduki urutan keempat dalam konsep pendidikan Islam.
Rasulullah Saw mengajar atau memenej pendidikan dengan sangat perfek dengan tuntunan langsung dari Allah melalui Malaikat Jibril walaupun pada masa itu belum ada Madrasah.

Pendidikan Pada Masa Nabi Muhammad Saw
Ketika Muhammad baru diangkat menjadi Rasulullah, Beliau sangat sulit untuk menyampaikan risalah dari Allah Swt. Adat-istiadat dan bobroknya perilaku masyarakat Arab pada saat itu menjadi penghalang utama bagi Rasul dalam mendidik manusia kejalan yang benar. Tetapi Rasulullah punya manajemen tersendiri yang diatur sedemikian rupa atas izin Allah Swt. Pertama-tama beliau menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Ada kalanya beliau menyampaikan dakwah di perjalanan, tapi kerapkali juga dikediamannya; adakalanya dakwah Islam disampaikan kepada orang perorangan, tapi kalau situasj memungkinkan beliau juga tampil di hadapan jamaah. Orang yang pertamakali menyambut seruan Nabi Saw., adalah istri beliaul sendiri, Siti Khadijah, kemudian disusul oleh Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shidiq, kemudian beliau menyeru yang lainnya kepada Islam. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyah) ini berlangsung selama tiga tahun. Darul Arqam (rumah kediaman sahabat, al-Arqam bin Abi Al-Arqam r.a.) sebagai tempat pertemuan dengan para sahabatnya. Praktek belajar-mengajar yang dilakukan Nabi Saw. ketika itu, betul-betul sudah terorganisir dengan rapi, sesuai dengan target yang hendak dicapai terhadap peserta didik. Jadi bukan hanya sekadar pemahaman, hafalan, dan pelaksanaan, tetapi lebih dari itu untuk melahirkan kader-kader pendidik. Maka kiranya tidak berlebihan jika saya berpendapat bahwa Darul Arqam itulah yang merupakan “lembaga pendidikan Islam” pertama yang diselenggarakan di kota Mekkah. Padahal Darul Arqam hanya merupakan rumah seorang sahabat bernama al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a. yang digunakan oleh Nabi Saw., untuk menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an dan mengajarkan agama kepada para pengikutnya, ketika situasinya tidak memungkinkan untuk menyampakan hal tersebut di muka umum.
Dan ketika masjid mulai didirikan, umat Islam tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Masjid juga digunakan untuk proses belajar mengajar. Ruangan mesjid pun segera dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya halaqah-halaqah al-dras.
Dalam perjalanan sejarah Islam yang panjang itu, para peneliti sejarah pendidikan Islam mencatat nama-nama lembaga pendidikan yang pernah muncul dalam sejarah Islam di masa Idasik dan telah memberi jasa besar bagi perkembangan intelektual dalam Islam. Lembaga-lembaga pendidikan itu di antaranya adalah seperti Dar al-Hikmah, al-Khanat, al-Bimaristan, ar-Ribath, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, akhirnya muncul lembaga pendidikan yang tertata rapih dan proses pendidikan dan pengajarannya berlangsung secara lebih sistematis. Inilah yang disebut Madrasah, lembaga pendidikan yang dapat dikatakan sebagai puncak dari perkembangan lembaga pendidikan, tempat proses belajar-mengajar berlangsung dalam Islam.
Adapun tempat-tempat yang di gunakan sebagai sarana belajar umat Islam saat itu, antara lain:
a. Masjid
Masjid Nabawi merupakan tonggak sejarah amat penting bagi umat Islam. Di Masjid Nabawi itulah Nabi Saw. melaksanakan seluruh misi beliau dari mulai mengajar, latihan militer, diplomasi, musyawarah, dan seterusnya. Dengan kata lain, Nabi Saw. telah mencontohkan bagaimana sebuah masjid bisa bersifat multifungsi dan menjadi bagian penting dari pranata masyarakat Islam. Bahkan pada masa-masa lebih belakangan, ketika ruangan masjid tidak lagi memadai untuk kebutuhan kegiatan-kegiatan yang semakin beragam itu, maka untuk kebutuhan itu kaum muslimin mendirikan bangunan-bangunan tambahan di samping masjid, seperti lembaga pendidikan, termasuk di antaranya Madrasah.

b. Kuttab (menulis)
Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. Setelah Nabi Saw. dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan si anak. Anak yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.

c. Rumah Ulama
Tatkala lembaga-lembaga pendidikan sedikit atau banyak diintervensi oleh penguasa, kesempatan yang tersedia untuk belajar dan mengajar di lembaga pendidikan tidak selalu sama. Bisa terjadi seorang ulama tidak diperkenankan mengajar di lembaga-lembaga pendidikan yang terbuka, baik karena perbe-daan faham keagamaan maupun karena persoalan politik. Maka pada saat itulah sang ulama menjadikan rumah kediamannya sendiri sebagai lembaga pendidikan.

d. Halaqah
Halaqah adalah lingkaran belajar atau lebih tepatnya pertemuan rutin dari kelompok belajar yang tidak terlalu formal, namun cara ini sangat berpengaruh bagi Rasul untuk menyampaikan tarbiyah agama.
Seiring dengan perjalanan waktu tersebut, keluarlah barmacam hadits Nabi yang berhubungan erat dengan pendidikan, antara lain:
Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi kaum Muslimin pria maupun wanita (Hadits riwayat Ibn Abd al-Barr).

Sebaik-baik sedekah adalah apabila seorang Muslim mempelajari ilmu, kemudian mengajarkannya pula kepada saudara-saudaranya sesama Muslim (Hadits riwayat Ibn Majah).

Keutamaan orang-orang yang berilmu di atas orang-orang yang beribadah adalah laksana bulan pada malam purnama di atas segala planet (Hadits riwayat Abu Na’am).

Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah malu, danbuahnya adalah ilmu (Hadits riwayat Bukhari).

Orang-orang yang berilmu adalah pewaris para Nabi (Hadits riwayat Al-Khatib).

Sifat-sifat yang harus dicontoh oleh pemimpin
pendidikan saat ini dari Rasulullah:
Sifat-sifat Rasul yang harus dimiliki oleh pendidik Muslim adalah: as Siddiq (benar dan jujur), al Amanah (dapat dipercaya), at Tablīg (menyampaikan), dan al Fatonah(cerdikdanbijaksana), ikhlas, pemaaf, kebersihan diri, zuhud, mengetahui tabiat pesertadidik, dan menguasai mata pelajaran.
Imam alghazali mangatakan, Mengikuti sahabat syara’, yaitu Rasullah SAW. Seorang pendidik tidak mencari ganjaran atau gaji atau terima kasih dengan perbuatannya. Tetapi melakukannya semata karena Allah dalam rangka mencari kedekatan denganNya.
Kemudian manajemen Rasulullah ini dilanjutkan oleh sahabatnya sampai kepada masa kejayaan Islam pada masa umayyah dan abbasyiah dimana melahirkan. Masa yang sangat gemilang dapat dicapai pada saat itu. Hal itu juga dihasilkan oleh sistem manajemen Rasul. Saat itu lahir banyak pemikir pendidikan Islam yang pada akhirnya jadi base kemajuan peradaban barat. Alkindy, Alkhawarizmi, Ibnu Sina, dan masih sangat banyak para pemikir lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai bangunan pada saat itu dengan arsiteksi modern yang diakui dunia hingga saat ini. Demikian pula dengan berbagai bidang ilmu lainnya seperti, matematika, kedokteran, fisika, astronomi, filsafat, dan lain-lain.

Persepsi Saya tentang Pendidikan Saat Ini
Para pemikir pendidikan hari ini telah jauh dari tutunan Muhammad Saw. Karena yang dipikirkan bukanlah keikhlasan tapi suatu yang dihasilkan dari suatu sistem yang berbentuk materi. Segala sesuatu dipertimbangkan untuk sebuah proyek yang menghasilkan keuntungan individual. Jujur, saya sangat pesimis dengan fenomena pendidikan saat ini.
Pendidikan yang dijalankan bukan dengan tuntunan yang telah dicontohkan Rasul akan berjalan dengan hasil sama dengan nol. Bila dibandingkan dengan manajemen Rasul, maka manajemen pendidikan sekarang tidak ada apa-apanya. Tetapi hal tersebut bisa kita ubah dengan memulai dari diri sendiri walau aplikasi atau hasilnya masih sangat lama akan terwujud. Wallahu a’lam basshawabi.

Februari 5, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: